Determinan Kurikulum Bahasa Jerman SMA

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Kurikulum merupakan alat yagn sngat penting bagi keberhsilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan  di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum, ada sepuluh kurikulum yang pernah dipakai yaitu kurikulum pasca kemerdekaan 1947, 1949, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan KBK yang disempurnakan menjadi kurikulum KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Perubahan kurikulum tersebut yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasil yang maksimal. Mengembangkan kurikulum bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana karena banyak sekali pertanyaan yang dapat dikemukakan untuk dipertimbangkan. Misalnya : apakah yang ingin dicapai?

Manusia yang bagaimana yang diharapkan akan dibentuk? Apakah yang diutamakan kebutuhan sekarang atau masa mendatang? Apakah hakikat anak harus dipertimbangkan atau diperlukan sebagai orang dewasa? Dan segudang pertanyaan lagi yang kesemuanya menyangkut determinan yang mendasari setiap kurikulum, yaitu determinan filosofis, determinan psikologis, determinan sosiologis dan determinan hakikat pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat membawa dampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk terjadinya pergeseran fungsi sekolah sebagai suatu institusi pendidikan. Seiring dengan tumbuhnya berbagai macam kebutuhan dan tuntunan kehidupan, beban sekolah semakin berat dan kompleks. Kurikulum sebagai mata pelajaran yang harus dikuasai oleh anak didik, akan tetapi juga dituntut untuk dapat membekali berbagai macam ilmu pengetahuan yang sangat cepat berkembang yang dapat mengembangkan minat dan bakat, membentuk moral dan kepribadian, bahkan dituntut agar anak didik dapat menguasai berbagai macam keterampilaan yang dibutuhkan untuk memenuhi dunia pekerjaan.

  1. B.     Identifikasi Masalah
  2. Pengertian determinan  kurikulum
  3. Peran dan fungsi kurikulum
  4. Kurikulum bahasa jerman SMA
  5. Pendekatan dalam pengembangan kurikulum
  1. C.    Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud dengan determinan  kurikulum?
  3. Apa saja peran dan fungsi kurikulum?
  4. Bagaimana struktur kurikulum bahasa jerman SMA?
  1. D.    Pembatasan Masalah

Dari rumusan masalah terdapat pula pembatasan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah pengertian determinan kurikulum, peran dan fungsi kurikulum, dan kurikulum bahasa jerman SMA.

  1. E.     Tujuan dan Manfaat

Dari masalah yang ada terdapat juga tujuan dan manfaat, yaitu :

  1. Memerikan pengertian kurikulum
  2. Memerikan pengertian determinan
  3. Menggambarkan struktur kurikulum bahasa Jerman SMA

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Determinan Kurikulum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), determinan adalah faktor yang menentukan. Sedangkan Nasution (2011:10) menyatakan bahwa determinan secara mendasar menentukan kurikulum sehingga disebut juga asas-asas. Kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada Yunani kuno yang berasal dari  curir dan curere. Pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Orang mengistilahkannya dengan tepat berpacu atau tempat berlari dari mulai start sampai finish.

Sanjaya(2008:6) mendefinisiskan bahwa kurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar sekolah asal kegiatan tersebut berada dibawah tanggung jawab guru (sekolah). J. Lloyd Trump dan Delmas F.Miller (1973), (dalam Nasution,2011:6) menyatakan bahwa dalam kurikulum juga termasuk metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervesi administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa determinan kurikulum adalah faktor-faktor yang menentukan proses kegiatan belajar dan mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal.

 

A.1. Determinan Filosofis

Pengembangan kurikulum yang mempunyai posisi yang jelas tentang pertanyaan-pertanyaan filosofis tersebut telah memiliki dasar yang memungkinkannya mengambil keputusan yang sehat dan konsisten. Akan tetapi dalam mengembangkan kurikulum ia tidak hanya menonjolkan falsafah pribadinya, akan tetapi harus mempertimbangkan falsafah negara, falsafah bangsa, falsafah lembaga pendidikan serta staf pengajarnya.

Pendidikan pada dasarnya bersifat normatif yang ditentukan oleh sistem-sistem yang dianut. Tujuan pendidikan adalah membina warga negara yang baik. Norma-norma yang baik terkandung dalam falsafah bangsa yaitu pancasila. Tiap negara tentu mempunyai suatu falsafah atau pandangan pokok mengenai pendidikan. Kurikulum harus memperhatikannya dalam pengembangannya agar dapat memelihara keutuhan nasional.

Pandangan yang baik tersebut berhubungan dengan berbagai aspek yang berbeda-beda menurut alirannya yaitu 1) Idealisme. Bahwa  kenyataan tersusun atas gagasan-gagasan  (ide-ide). 2) realisme. Menurut Comenius menyatakan bahwa metode berpikir yang diawali dengan fakta-fakta yang merupkan metode pemikiran ilmiah , yaaitu metode induktif.  3) Pragmatisme. Kata tersebut berasal dari kata “pragma” yang berarti praktik, hal tersebut mengandung arti bahwa makna dari segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan, dan 4) eksistensialisme. Cara manusia ada di dunia (Sadulloh.2003). Hakikat falsafah nasional harus dijadikan kerangka utama yang mengendalikan penyelenggaraan lembaga-lembaga pendidikan di negara yang bersangkutan dan oleh karena itu akan mempengaruhi semua keputusan dalam pengembangan kurikulum.

A.2. Determinan sosiologis

Tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan, dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak harus memberi jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari desakan dan tekanan dari kekuatan-kekuatan sosio-politik-ekonomi yang dominan pada saat tertentu. Kesulitan akan dihadapi bila kelompok-kelompok sosial mengajukan keinginan yang bertentangan dengan kepentingan khusus masing-masing, seperti golongan politik, agama, militer, industri, swasta, pemerintah, dan sebagainya.

Dari segi sosiologis sistem pendidikan serta lembaga-lembaga pendidikan di dalamnya dapat dipandang sebagai badan yang mempunyai berbagai fungsi bagi kepentingan masyarakat, diantaranya a) mengadakan perbaikan bahkan perombakan sosial, b) mempertahankan kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah, c) mendukung dan turut memberi sumbangan kepada pembangunan nasional, d) menyampaikan kebudayaan dan nilai-nilai tradisional, e) mengeksploitasi orang banyak demi kesejahteraan golongan elite.

A.3. Determinan psikologis

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, sedangkan kurikulum adalah upaya menentukan program pendidikan untuk mengubah perilaku manusia. Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku itu harus dikembangkan.

Determinan psikologis ini mempunyai dua dimensi yang saling berkaitan (Nasution,2010:25) yaitu 1) Teori belajar. Teori ini menjelaskan bagaimana sebenarnya siswa belajar. Dalam teori ini terdapat lima kelompok teori belajar diantaranya, i) teori behaviorisme. Seorang behavioris memandang pelajar sebagai organisme yang merespons terhadap stimulus dari dunia sekitarnya, yang dikenal sebagai S – R atau S- R – O (O=orgnisme).

Peranan guru ialah menyajikan stimulus tertentu yang membangkitkan respons merupkan hasil belajar yang diinginkan.Untuk mengatur proses S – R secara sistematis maka bahan pelajaran dipecahkan atau dibagi-bagi menjadi butir-butir informasi spesifik. Jumlahnya akan menjadi sangat banyak. Butir-butir informasi itu harus diurutkan dengan tepat, dimulai dari yang paling sederhana, kemudian berangsur-angsur meningkat kebutir yang lebih kompleks.

Jadi bahan pelajaran yang dipecahkan menjadi serangkaian yang berurutan, disajikan satu demi satu kepada siswa, ia harus lebih dulu menguasai satu langkah sebelum maju ke langkah berikutnya lebih sulit dan kompleks. ii) Teori psikologi daya. Menurut penganut aliran ini, belajar ialah mendisiplin dan menguatkan daya-daya mental, terutama daya pikir, melalui latihan mental yang ketat. Bila “otak” telah dikembangkan melalui studi matematika, bahasa klasik dan humaniora, maka pelajar akan mampu berpikir rasional dan dapat mentransfer proses belajar itu pada bidang studi lain. iii) Teori pengembangan kognitif.

Menurut teori tersebut pematangan mental berkembang secara berangsur-angsur pada individu berkat interaksinya sebagai pelajar dengan lingkungan. Dengan bertambhnya usia anak proses memimpin secara kontiniu yang dibentuk secara lngsung agar mencapai tingkat pemikiran dan perbuatan yang lebih kompleks dan lebih matang. iv) Teori lapangan. Teori ini menggunakan konsep behaviorisme dan perkembangan kognitif dengan memasukkan unsur “O” (O=organisme atau individu) didalam rumus S-R menjadi S-O-R.

Para ahli psikologi lapangan sangat mengutamkan pelajar dalam proses belajar. Individu dianggap sentral dalam teori lapangan itu. v) Teori kepribadian. Selama periode 1920-an dan 1930-an Hartshon dan May  mengadakan penelitian tentang kelakuan moral anak-anak. Mereka mencoba menganalisis pendapat anak-anak tentng sejumlah sifat moral seperti kejujuran, keramahan dan lain-lain. dengan penelitian mereka meletakkan dasar penelitian selanjutnya yang mendalami alasan-alasan emosional – psikologis dibelakang kelakuan anak (seperti cinta, kasih, rasaa benci dan rasa bersalah). 2) Hakikat pelajar. Secara individual hakikat teori berkenaan dengan taraf i) motivasi, ii) kesiapan, iii) kematangan intelektual, iv) kematangan emosional, v) latar belakang masalah.

A.4. Hakikat pengetahuan

Nasution (2010:34) menyatakan bahwa pengetahuan adalah ilmu yang didapatkan dari suatu proses pengalaman dan belajar. Sesuai dengan tuntutan zaman pengetahuan terus berkembang dan berubah dengan kelajuan yang kian cepat. Diperkirakan bahwa setiap tahun munculnya karangan-karangan ilmiah yang baru. Bahkan seorang pemenang hadiah Nobel lulusan Universitas 30 tahun yang lalu merasa tidak mampu untuk menempuh ujian Sekolah Menengah karena itulah ilmu yang terus berkembang  serta munculnya karya-karya ilmiah baru.

Kita dituntut untuk mengetahui apa yang harus diajarkan dan untuk siapa akan diajarkan  sesuai dengan perkembangan zaman. Ada dua masalah pokok yang harus dipertimnbangkan : (1.) Pengetahuan apakah yang paling berharga untuk diajarkan bagi populasi sasaran (siswa) dalam suatu bidang studi? (2.) Bagaimanakah mengorganisasi bahan itu agar siswa dapat menguasainya dengan sebaik- baiknya?

Untuk memecahkan masalahan yang pertama ialah para sepesialis dalam disiplin ilmu yang bersangkutan dengan syarat bahwa mereka senantiasa mengikuti perkembangan ilmunya dan selain itu memahami determinan filosofis, sosiologis, dan psikologis dalam mengambil keputusan. Namum perkembangan kurikulum dituntut untuk membantu mereka agar memahami sepenuhnya implikasi tugas-tugas mereka dalam menentukan “Pengetahuan yang paling berharga”.

Mungkin pendekatan yang paling baik ialah membentuk team yang diketahiu ahli pengembangan kurikulum, yang juga memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bidang studi itu. Pada masalah kedua harus diberi perhatian yang serius untuk memecahkan  masalah pengorganisasian kurikulum agar siswa dapat menguasai pelajaran dengan baik. Yaitu dengan menggunakan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran disusuan dan disampaikan kepada murid- murid untuk mencapai tujuan pendidikan.

Selain dari itu organisasi kurikulum menentukan juga peranan guru dan murid dalam pembinaan kurikulum (Nasution,2011). Kurikulum bermacam – macam bentuknya. Bentuknya yang paling dikenal dan sangat meluas pemakaiannya ialah subject curriculum. Subject berarti kurikulum yang terdiri atas sejumlah mata pelajaran. Yang disebut juga subject centered curriculum yang artinya kurikulum berpusat pada matapelajaran karena mata pelajaran itu pada umumnya diajarkan secara terpisah-pisah, maka disebut juga sparate subject –curriculum.

Kurikulum ini banyak mempunyai kelebihan, namun juga banyak kelemahan. Karena  kelemahaan itu banyak timbul keritik dari para ahli kurikulum yang menganjurkan bentuk kurikulum lain.  Maka timbullah bentuk kurikulum yang lain dianggap sebagai reaksi terhadap subject curriculum itu. Mereka yang menganggap bahwa subject curriculum memberi pengetahuan yang lepas-lepas, atomistis, atau fragmantaris maka dianjurkan kurikulum yang integrated atau dipadukan yang tidak mengenal batas – batas antara mata pelajaran.

Para ahli  juga mengatakan bahwa subject curriculum peserta didik itu hanya pasif, maka dianjurkan bentuk kurikulum untuk mengaktifkan anak –anak dalam proses belajar yaitu activity curriculum. Ada pula yang menganggap bahwa subject curriculum terlalu mengutamakan pengalaman umat manusia yang lampau, yaitu kebudayaan yang diwariskan pada masa lampau, yang dituangakan dalam bentuk mata pelajaran, sehingga pengetahuan anak menjadi verbalistis.

Dengan itu mereka ingin kurikulum yang didasarkan atas pengalaman langsung agar pelajaran lebih bermanfaat. Para ahli menganjurkan dengan kurikulum experience curriculum. Demikian juga subject curriculum dikatakan kurang memberi pelajaran yang bertalian dengan kehidupan anak sehari- hari dalam lingkungan masyarakat. Mereka menganjurkan life curriculum. Dan ada pula yang berusaha mencakup segala kebaikan bentuk kurikulum yang mengadakan reaksi terhadap subject curriculum yaitu core curriculum.

  1. B.     Peran dan Fungsi Kurikulum

Kurikulum disusun atau dibuat dengan maksud memberikan pedoman dan arah yang tepat dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan, baik tujuan secara global, nasional, regional maupun lokal. Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum menempati peran utama dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum itu memiliki tiga peran, ( Sanjaya, 2008:10) yaitu : 1) Peran Konservatif, yaitu peranan kurikulum untuk mewariskan, mentransmisikan, dan menafsirkan nilai-nilai sosial dan budaya masa lampau yang tetap eksis dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut tentu merupakan nilai-nilai positif dan bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik di masa yang akan datang.

Sekolah sebagai pranata sosial harus dapat mempengaruhi dan membimbing tingkah laku peserta didik sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional. 2) Peran Kreatif, yaitu peranan kurikulum untuk menciptakan dan menyusun kegiatan-kegiatan yang kreatif dan konstruktif sesuai dengan perkembangan peserta didik dan kebutuhan masyarakat. Kurikulum harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik melalui berbagai kegiatandan pengalaman belajar yang kreatif, efektif, dan kondusif.

Selain itu, kurikulum juga harus dapat merangsang pola berfikir dan pola bertindak peserta didik untuk menciptakan sesuatu yang baru sehingga bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, dan negara. 3) Peran Kritis dan Evaluatif, yaitu peranan kurikulum untuk menilai dan memilih nilai-nilai sosial-budaya yang akan diwariskan kepada peserta didik dengan kriteria tertentu. Asumsinya adalah nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat akan selalu berubah dan berkembang.

Perubahan dan perkembangan nilai-nilai tersebut belum tentu relevan dengan karakteristik budaya bangsa kita, yaitu bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang tidak relevan tentu harus dibuang dan diganti dengan nilai-nilai budaya baru yang positif dan bermanfaat. Disinilah peran kritis dan evaluatif kurikulum sangat diutamakan. Jangan sampai peserta didik terkontaminasi oleh nilai-nilai budaya asing yang bertentangan dengan Pancasila.

Sanjaya (2008:12) juga menegaskan bahwa “dalam proses pengembangan kurikulum ketiga peran tersebut harus berjalan seimbang. Sesuai dengan peran yang harus “dimainkan” fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan”. Dilihat dari cakupan tujuannya, (Sanjaya, 2008:12) isi kurikulum memiliki empat fungsi yaitu: 1) Fungsi pendidikan umum (common and general education).

Fungsi pendidikan umum (common and general education) yaitu fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab sebagai warga negara tyang baik dang bertanggu ngjwab makja dari itu kurikulum harus memberikan pengalaman belajar kepada setiap peserta didik agar mampu mengintegralisasikan nilai-nilai dalam kehidupan, memahami hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat dan mahluk sosial.

Dengan demikain, fungsi kurikulum ini harus diikuti oleh setiap siswa pada jenjang level atu jenis pendidikan manapun. 2) Suplementasi (supplementation). Setiap peserta didik memiliki perbedaan baik dari segi intelektualnya, mentalnya, fisik, bakat, minat serta potensi yang mereka miliki, maka dari itu kurikulum sebagai alat pendidikan seharusnya mampu mengakomodir itu semua sehingga mampu memberikan pelayanan kepada peserta didik berdasarkan perbedaaan yang mereka miliki.

Dengan demikan setiap anak didik berkesempatan menambah kemampuan dan wawasan yang lebih baik sesuai dengan minat, bakat serta potensi yang dimilikinya, artinya semua peserta didik mendapatkan layanan yang optimal. 3) Eksplorasi (esploration). Pada fungsi ini kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat, bakat dan potensi siswa. Melalui fungsi ini diharapkan anak berkembang dan belajar tanpa danya paksaan.

Namun demikian proses ekplorasi minat,bakat dan potensi siswa ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, sehingga pada banyak kasus anak menjadi korban pemaksaan orang tua hanya karena alasan-alasan tertentu yang tidak rasioanal, semestinya orang tua dalam hal ini mengarahkan anak yang sesuai dengan bakat, minat serta potensi yang dimilikinya. 4) Keahlian (specialization). Kurikulum berfungsi mengembangkan kemampuan peserta didik yang sesuai dengan keahliannya berdasarkan minat, bakat serta potensi yang mereka miliki.

Dengan demikian kurikulum harus memberikan pilihan berbagai bidang keahlian yang pada akhinya setiap peserta didik memiliki keterampilan-keterampilan sesuai dengan bidang spesialisasinya dalam hal ini hendaknya pengembangan kurikulum melibatkan para spesialis untuk menentukan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh setiap siswa sesuai dengan bidang keahliannya.

  1. C.    Kurikulum Bahasa Jerman SMA

 

KURIKULUM BERDASARKAN STANDAR ISI 2006

Mata Pelajaran : Bahasa Jerman

Jenjang Sekolah: SMA/MA

Semester 1

Kompetensi Dasar Kompetensi Dasar
MENDENGARKAN

  1. Memahami wacana lisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang kehidupan keluarga
1.1.  Mengidentifikasikan bunyi, ujaran, (kata,frasa atau kalimat) dalam suatu konteks dengan mencocokkan, menjodohkan dan membedakan secara tepat

1.2.  Memperoleh informasi umum, informasi tertentu dan atau rinci dari berbagai benntuk wacana lisan sederhana secara tepat

1.1.1.      Menyebutkan ujaran yang di dengar

1.1.2.      Mencocokkan gambar dengan ujaran sesuai konteks

1.1.3.      Menentukan makna kata yang pengucapannya mirip

1.2.1    Menentukan tema suatu wacana tentang Kehidupan Keluarga

1.2.2    Menentukan informasi secara global tentang isi teks tentang Kehidupan Keluarga

1.2.3.   Menentukan informasi rinci dari suatu teks tentang Kehidupan Keluarga

1.2.4.   Menjawab pertanyaan tentang isi teks secara rinci

BERBICARA

  1. Mengungkapkan secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog sederhana tentang Kehidupan  Keluarga
2.1.      Menyampaikan informasi secara lisan dalam kalimat sederhana sesuai konteks yang mencerminkan kecakapan berbahas yang santun dan tepat

2.2.      Melakukan dialog sederhana dengan lancar yang mencerminkan kecakapan berkomunikasi dengan santun dan tepat

2.1.1.      Memberikan informasi yang santun dan tepat tentang tema Kehidupan Keluarga

2.2.1.      Mengajukan pertanyaan dengan lafal dan intonasi yang santun dan tepat tentang tema Kehidupan Keluarga

2.2.2.      Meemberikan jawaban dengan lafal dan intonasi yang tepat tentang tema Kehidupan Keluarga

2.2.3.      Melakukan percakapan dengan lancar serta lafal dan intonasi yang benar tentang tema Kehidupan Keluarga

MEMBACA

  1. Memahami wacana tulis berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang Kehidupan Keluarga
3.1.      Mengidentifikasikan bentuk dan tema wacana sederhana secara tepat

3.2.      Memperoleh informasi umum, informasi tertentu dan ata urinci dari wacana tulis sederhana

3.1.1.      Menentukan bentuk suatu teks (misal: surat, dialog, wawancara dsb)

3.2.1.      Menentukan informasi global dari teks tentang Kehidupan Keluarga

3.2.2.      Menentukan informasi selektif dari teks tentang Kehidupan Keluarga

3.2.3.      Menentukan informasi rinci dari teks tentang Kehidupan Keluarga

3.3.      Membaca kata, frasa dan atau kalimat dalam wacana tertulis sederhana dengan tepat 3.3.1.      Melafalkan kata dari tema tentang Kehidupan Keluarga dengan tepat

3.3.2.      Melafalkan frasa dari tema tentang Kehidupan Keluarga dengan tepat

3.3.3.      Melafalkan kalimat dari tema tentang Kehidupan Keluarga dengan tepat

MENULIS

  1. Mengungkapkan informasi secara tertulis dalam bentuk paparan atau dialog sederhana tentang Kehidupan Keluarga
4.1.      Menulis kata, frasa, dan kalimat dengan huruf, ejaan dan tanda baca yang tepat

4.2.      Mengungkapkan informasi secara tertulis dalam kalimat sederhana sesuai konteks yang mencerminkan kecakapan menggunakan kata, frasa dengan huruf, ejaan, tanda baca dan struktur yang tepat

4.1.1.      Menuliskan kata, frasa, dan kalimat tentang Kehidupan Keluarga dengan huruf dasn tand baca yang tepat

4.2.1.      Menyusun kalimat sederhana berdasaarkan kata-kata yagn tersedia tentang Kehidupan Keluarga

4.2.2.      Menyusun kalimat menjadi satu paragraf yang padu tentang Kehidupan Keluarga dengan ejaan, tanda baca dan struktur yang benar serta kosa kata yagn tepat tentang Kehidupan Keluarga

KURIKULUM BERDASARKAN STANDAR ISI 2006

Mata Pelajaran : Bahasa Jerman

Jenjang Sekolah: SMA/MA

Semester 2

Kompetensi Dasar Kompetensi Dasar
MENDENGARKAN

  1. Memahami wacana lisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang kehidupan sehari- hari
1.1.      Mengidentifikasikan bunyi, ujaran, (kata,frasa atau kalimat) dalam suatu konteks dengan mencockan, menjodohkan dan membedakan secara tepat

1.2.Memperoleh informasi umum, informasi tertentu dan atau rinci dari berbagai benntuk wacana lisan sederhana secara tepat

1.1.1.      Menyebutkan ujaran yang di dengar

1.1.2  Mencocokkan gambar dengan ujaran sesuai konteks

1.1.3   Menentukan makna kata yang pengucapannya mirip

1.2.1    Menentukan tema suatu wacana tentang Kehidupan Keluarga

1.2.2    Menentukan informasi secara global tentang isi teks tentang Kehidupan Keluarga

1.2.3.   Menentukan informasi rinci dari suatu teks tentang Kehidupan Keluarga

1.2.4.   Menjawab pertanyaan tentang isi teks secara rinci

BERBICARA

  1. Mengungkapkan secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog sederhana tentang Kehidupan  sehari- hari
2.1.      Menyampaikan informasi secara lisan dalam kalimat sederhana sesuai konteks yang mencerminkan kecakapan berbahas yang santun dan tepat

2.2.      Melakukan dialog sederhana dengan lancar yang mencerminkan kecakapan berkomunikasi dengan santun dan tepat

2.1.1        Memberikan informasi yang santun dan tepat tentang tema Kehidupan Sehari- hari

2.11Mengajukan pertanyaan dengan lafal dan intonasi yang santun dan tepat tentang tema Kehidupan Keluarga

2.1.2        Meemberikan jawaban dengan lafal dan intonasi yang tepat tentang tema Kehidupan Keluarga

2.1.3        Melakukan percakapan dengan lancar serta lafal dan intonasi yang benar tentang tema Kehidupan Sehari- hari

   

BAB III

SIMPULAN

 

Determinan kurikulum adalah faktor-faktor yang menentukan proses kegiatan belajar dan mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal. kurikulum itu memiliki tiga peran, ( Sanjaya, 2008:10) yaitu : 1) Peran Konservatif, 2) Peran Kreatif, 3) Peran Kritis dan Evaluatif. Sanjaya (2008:12) juga menegaskan bahwa “dalam proses pengembangan kurikulum ketiga peran tersebut harus berjalan seimbang. Sesuai dengan peran yang harus “dimainkan” fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan”. Dilihat dari cakupan tujuannya, (Sanjaya, 2008:12) isi kurikulum memiliki empat fungsi yaitu: 1) Fungsi pendidikan umum (common and general education). 2) Suplementasi (supplementation). 3) Eksplorasi (esploration). 4) Keahlian (specialization). Sesuai dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi, kurikulum yang diterapkan di Indonesia saat adalaha kurikulum KTSP atau kurikulum standar isi 2006.  

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nasution, 2010, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta:PT Bumi Aksara.

Nasution, 2011, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta:PT Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina, 2009, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta:Kencana.

Tim Penagajar, 2012, Filsafat Pendidikan, UNIMED.

http://kamusbahasaindonesia.org/determinan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s